Lelah yang mulai menyelimuti dan menemani malam setelah seharian menikmati euvoria hari kemerdakaan. Tak hanya sendiri, tapi semua orang ikut merasakannya. Ya..bagaimana tidak, setelah dua tahun tidak merasakan kemerdekaan karena Allah sedang memberikan waktu tenggang Bumi ini untuk beristirahat.
Saat itu, malam hari rumah-rumah dan jalan-jalan masih ramai dengan suasana itu. Tak terkecuali rumah Lita yang malam itu juga sangat ramai dengan kedatangan sanak saudara yang berkunjung. Kecerian dan canda tawa ada disetiap sudut rumah. Para orangtua melepas rindu dengan berbagi cerita, sedangkan para calon penerus keluarga asik bermain bersama. Walau mereka bertemu palung tidak hanya satu tahun sekali, namun tidak ada kata "canggung" yang ada di benak mereka.
Benar-benar suasana yang dirindukan saat hari kemenangan. Namun, ditengah canda tawa ini. Tiba-tiba sebuah masalah muncul. Ya..wajarlah. Mereka dengan sifat dan karakter yang bermacam-macam berkumpul. Niat bercanda yang berujung menjadi petaka. Lita lupa ketika ada seseorang tersebut tidak bisa diajaknya bercanda. Namun keceplosan, dan akhirnya membuat semua manjadi tidak nyaman. Di sini Lita lupa, "Oiya, beliau bukan tipe orang yang bisa aku ajak bercanda. Mungkin kalau yang orang lain ajak bercanda dengan candaan tersebut tidak akan tersinggung. Tp karena aku yang mengajak bercanda malah membuat orang lain tidak nyaman" dalam hati Lita. Lita pun hanya bisa terdiam sambil tersenyum getir karena kaget mendengar candan yang dianggap serius dan dibalas dengan kata-kata yang membuat hatinya "WOW". Namun di sini Lita sedikit bersyukur karena tidak membalas kata-kata tersebut. Karena sudah sering diperlakukan dengan demikian. Jadi dengan sekuat tenaga harus bisa menahan supaya tidak membuat suasana bertambah tidak nyaman.
Memang hati seseorang kita tak pernah tau. Yang mana benar-benar tulus dan yang mana ketika ada sesuatu yang sedang membuatnya merasa senang. Pasti akan berbeda perlakuannya.
Kata - kata yang selalu ku ingat " Yang membuat sangat menyesal adalah ucapan dari mulutmu saat kau marah". Dari kata- kata itu, Lita sedang berusaha membalas kata-kata yang membuat hatinya "WOW" dari beliau dihadapi dengan hati dan pikiran dingin. Jangan sampai tersulut emosi dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya menyesal dikemudian hari.
Walau hati ini sudah dihancurkannya sejak lama, bahkan mungkin sejak Lita kecil dan pelan-pelan Lita tata kembali. Namun seperti kaca yang sudah pecah, walaupun di susun kembali tak akan pernah bisa seperti dulu lagi.
Pesan dari Lita untuk calon Ibu / Ibu muda
Hati-hati dengan mulutmu. Doa ibu adalah doa yang diijabah oleh Allah. Semarah-marahnya kamu dengan anakmu, jangan sampai mengatakan kata-kata yang tidak baik. Ketika anak salah, ingatkan dengan kata-kata baik supaya bisa dipahami bukan dengan kemarahan yang sulit dipahami apalagi meninggalkan luka yang entah kapan sembuhnya.
Komentar
Posting Komentar